Unity in Diversity

 

3 minggu yang lalu, saya dan suami mengalami kejadian yang kurang mengenakkan di komplek yang melibatkan penghuni kos depan rumah. Mereka melakukan tindak kekerasan dan melontarkan ancaman serius setelah ditegur agar tidak gaduh melebihi jam 10 malam tepat di depan pagar kami.

Kejadian ini bukan yang pertama kali. Mereka ini suka bikin gaduh sampai tengah malam, bermain gitar, unnecessarily and repetitively membunyikan klakson motor dengan kencang regardless of time, mengumpat kata-kata kotor sampai terdengar dari belakang rumah saya, dsb. Sebelumnya kami sudah menegur mereka beberapa kali secara baik-baik. Untuk beberapa saat kebiasaan ini reda. Namun kali itu mereka tidak mengindahkan teguran dan malah menjadi-jadi, as if they taunted us by escalating their hullabaloo.

Kebanyakan penghuni kos ini adalah mahasiswa yang berasal dari daerah Indonesia Timur. Setelah kejadian malam itu, beberapa teman mengungkapkan bahwa ini bukan satu-satunya yang terjadi. Setelah kerusuhan antar kelompok mereka di Universitas Kanjuruhan beberapa hari sebelumnya, ada juga 2 kejadian serupa yang terjadi di tempat lain di Malang. Di Jakarta dan Bandung, ada kos-kosan yang tidak mau menerima calon penghuni dari daerah timur karena reputasi buruk mereka. Dulu saya menganggap kebijakan itu sangat rasis. Tapi sekarang saya sedikit memahami bahwa tiap stereotipe muncul pasti karena ada sebabnya.

status fb

Meskipun pihak yang berwajib sudah menangani masalah ini dan mereka sudah minta maaf, tapi sampai dua minggu setelah kejadian, saya masih was-was. Kami tinggal berdua saja di rumah ini, kalau mereka retaliate and decide to do something nasty, we’d be all dead before the police arive. Saya menyimpan senjata di kolong ranjang untuk jaga-jaga. Tiap ada suara gaduh sedikit saja dari depan, saya masih bergidik takut dan ingatan akan kejadian malam itu terus berkelebat di benak saya. Selama itu pula saya berpikir keras kenapa mereka bisa demikian. Apa yang salah? Apakah karena pendidikan? Apa karena kesenjangan sosial dan ekonomi?

Tapi mereka ini mahasiswa, lho. Terlepas dari kualitas pendidikan yang mungkin mereka terima di daerahnya, mereka sudah mengenyam pendidikan itu belasan tahun. Setidaknya mereka sudah bisa menggunakan akal sehat barang sedikit saja, kan. Masalah ekonomi juga saya rasa tidak. Beberapa dari mereka mendapatkan beasiswa dari perusahaan di daerahnya dengan nominal yang tidak sedikit. Beberapa di antaranya juga anak pengusaha dan/atau pejabat di daerah asalnya.

Kemudian saya ingat akan pidato Reza Aslan tentang Unity in Diversity. Memang contoh kasusnya berbeda, tapi ada satu poin penting yang menurut saya berlaku universal:

Education alone does not change people. Relationship does.

Ketika saya menempuh pendidikan S1 dan S2, saya memiliki beberapa teman dari daerah timur dan mereka baik-baik saja. Kami bergaul dan berinteraksi sewajarnya. Nah, salah satu pembeda teman saya dan mahasiswa dari timur di Malang lainnya adalah: teman saya ini membaur, bergaul dengan kami, dan dengan mahasiswa dari daerah lain. Ketika kamu berinteraksi dengan orang lain, kamu tidak hanya memproyeksikan dirimu dan nilai-nilai yang kamu miliki. Kamu juga menerima nilai-nilai baru, mengolahnya, dan beradaptasi dan berlaku semestinya berdasarkan pengolahan itu.

Sedangkan pada mahasiswa dari daerah timur di depan rumah saya dan beberapa tempat lainnya ini: mereka hanya berbaur dan bergaul dengan sesamanya saja. Mereka ke tempat baru dengan membawa nilai-nilai lama yang mungkin hanya berlaku di daerah asalnya sendiri. Mereka berkelompok di satu lingkungan, pergi ke kampus yang mayoritas diisi orang dari daerah yang sama, ke kelas dengan orang yang sama, pulang ke kosan dengan penghuni yang sama, dan seterusnya. Tidak ada nilai baru yang mereka terima, tidak ada sesuatu yang baru untuk diolah sebagai bahan refleksi dan evaluasi. Terlebih lagi tidak ada mekanisme kontrol terhadap mereka, tidak dari orang tua, sesepuh adat, pun dari masyarakat di sini yang — kebanyakan — sudah ogah duluan berurusan dengan mereka.

Kasus yang tidak sama tapi serupa juga terjadi di universitas saya mengajar. Kali ini melibatkan mahasiswa asing dari Libya. Untungnya, pihak kampus cekatan dan memisahkan mereka ke beberapa lingkungan yang berbeda. Dengan demikian, mereka ‘dipaksa’ untuk berbaur dengan mahasiswa lainnya. Dan benar, mereka beradaptasi dengan baik dan hidup rukun. A crisis well averted mitigated.

Pertanyaan selanjutnya adalah: apakah solusi yang sama bisa diterapkan ke saudara-saudara kita dari timur ini? Siapa yang mau melakukannya? Ideally, people here in Malang should meet them half-way. But… i personally still feel a little bit reluctant to do that, being traumatized and all…

Oh well.

Share this on...Share on Google+
Google+
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

2 thoughts on “Unity in Diversity”

  1. Halo! Saya setuju dengan pendapat Anda. Memang seharusnya lingkungan kampus dapat mengajarkan kita secara tidak langsung, bahwa hidup berbaur memang diperlukan agar mengerti satu sama lain yang berbeda daerah. Negara kita saja punya semboyan Bhinneka Tunggal Ika, masa di lingkup kampus saja tidak bisa diterapkan hal yang cukup sederhana namun bisa menjadi kompleks?

    1. Hai. Idealnya demikian. Masalahnya prakteknya akan susah ketika lingkungan kampus terlalu homogen sehingga mereka tidak mendapat input yang berbeda dan beradaptasi terhadap perbedaan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *