Tentang Bekerja

working

Kemarin malam ketika jagongan menunggui mama yang 3 hari ini opname, muncullah percakapan tentang kerja dan ibadah antara saya, Aba dan suami.

“Bekerjalah yang memberi arti lebih. Bekerja untuk uang itu tidak salah. Tapi yang akan kamu dapatkan ya itu, uang.”Kata Aba.

“Kalau bekerja, carilah yang memberi nilai tambah. Menulis itu mulia, sama halnya dengan menjadi pengajar karena itu memberi pengetahuan ke orang lain.”

“Ada cerita, ayahnya si X mewanti-wanti X agar jangan berdagang perhiasan karena apa nilai lebihnya perhiasan selain pengait ke perubahan harga jualnya? Kalau kamu berdagang furnitur, misal, kamu membuat lemari yang akhirnya akan dimanfaatkan, memiliki nilai guna bagi pembelinya.”

By association, orang yang hidupnya dihabiskan hanya untuk pulang pergi ke masjid beribadah, itu adalah orang yang selfish. Dia hanya berpikir tentang dirinya tanpa berusaha untuk memberi manfaat pada orang lain.”

This had brought me back to some conversation i had with the hubby a while back:

Selama ini saya banyak menemui orang di sekililing saya yang bekerja sangat keras, to the point of looking like a machine. And yes, salah satu orang itu adalah suami saya sendiri. Kita bekerja sedemikiannya only to find at the end of the day wondering: what is it all for?  I dunno if it was all to make him feel better about what he’s been doing, he justified it by saying: “Saya ingin memiliki kebebasan finansial sehinga bisa pensiun dini dan fokus ibadah.”

My words for him:

Memiliki cita-cita untuk bisa pensiun dini dan fokus beribadah itu tidak salah. Tapi bekerjapun merupakan bentuk ibadah. Dengan bekerja seperti ini, kamu menghidupi (anak) istrimu, dan membuat beberapa orang mampu melakukan hal yang serupa untuk keluarganya. Itu juga merupakan bentuk ibadah. Asal kamu ikhlas, asal niatmu tertata, kamu tidak perlu menunggu sampai usia 40 untuk bisa dekat dengan-Nya. After all, Al Bayhaqi narrated Rosul’s hadith: “the best of man is to the benefit of others” right?

In addition to that, Aba also said: “Kamu harus memiliki kebebasan finansial (selain pinter). Karena dengan begitu kamu bisa kuat dan melakukan lebih untuk Islam.”

Tl:dr — it is not only about the end, but also the means.

Share this on...Share on Google+
Google+
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *