Tradisi Belajar

Kemarin selepas dari menghadiri suatu forum, suami saya mengeluhkan keadaan dimana dia tidak lagi mampu belajar seperti dulu. Hari-hari yang dipenuhi dengan deadline dan tanggungan pekerjaan put him in hamster wheel, menjauhkannya dari proses belajar, dari membaca buku yang dulu selalu rutin ia lakukan di sela-sela kesibukan. Menghadiri forum tersebut, mendengarkan pembicara yang sangat knowledgeable dalam bidangnya menyentaknya kembali ke realita bahwa ia, kita, butuh untuk tumbuh, dengan cara belajar, salah satunya dengan membaca.

Kemarin saya ikut konferensi Neltal di UM dan karena alasan kesibukan, saya baru bisa menyiapkan materinya satu hari sebelumnya. Selama sehari penuh itu saya harus mengolah dan menganalisa data yang sudah lama mengendap di storage komputer saya dan melakukan riset literatur secara intensif sekali. Hasilnya, saya berhasil menyelesaikan materi presentasi dengan memuaskan (dalam takaran saya). Namun yang saya catat disini bukan hasil itu, tapi apa yang saya rasa dan sadari selama proses pengerjaannya: betapa ada banyak hal yang tidak saya mengerti, betapa seharusnya saya bisa memanfaatkan waktu sedari dulu untuk belajar seintensif ini, belajar mati-matian seolah-olah nasib dan kredibilitas saya yang dipertaruhkan esok hari di hadapan para ahli.

Itu hanya satu materi untuk satu topik saja. Bayangkan ada berapa banyak hal yang saya tidak sadar bahwa saya tidak tahu hanya karena saya lebih memilih untuk bersosial media, stalking akun tidak penting di instagram, atau menghabiskan waktu leyeh-leyeh tak berguna menonton drama Korea. Lebih dari itu, betapa saya sadar sesat dan dzalimnya saya ketika masuk ke kelas untuk mengajar, saya lalai tidak berusaha untuk menambah kapasitas teko agar semakin banyak yang bisa saya curahkan ke mahasiswa saya, kepada para calon penerus bangsa ini, pada manusia-manusia yang harus saya bentuk mindset dan kepribadiannya. Betapa saya lalai sekali.

If I could do it that time, I should be able to do it in any other time, every time.

Saya harus belajar.

 

Share this on...Share on Google+
Google+
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *