Start working at a new place now

It’s been two weeks since I started teaching at State Polytechnic of Malang, in Civil Engineering faculty. It’s all been a new experience for me. The school system, the colleague, the working culture are all different and all in all been so nice.

I’m still teaching at UIN Maulana Malik Ibrahim too while at the same time working on my doctoral program at State University of Malang.

Yes, I have been so occupied and hectic (I don’t even have time to pamper myself with a good nice facial treatment so far that I so very much enjoy). I love it but also am afraid that my body won’t be able to take it.

 

Tradisi Belajar

Kemarin selepas dari menghadiri suatu forum, suami saya mengeluhkan keadaan dimana dia tidak lagi mampu belajar seperti dulu. Hari-hari yang dipenuhi dengan deadline dan tanggungan pekerjaan put him in hamster wheel, menjauhkannya dari proses belajar, dari membaca buku yang dulu selalu rutin ia lakukan di sela-sela kesibukan. Menghadiri forum tersebut, mendengarkan pembicara yang sangat knowledgeable dalam bidangnya menyentaknya kembali ke realita bahwa ia, kita, butuh untuk tumbuh, dengan cara belajar, salah satunya dengan membaca.

Kemarin saya ikut konferensi Neltal di UM dan karena alasan kesibukan, saya baru bisa menyiapkan materinya satu hari sebelumnya. Selama sehari penuh itu saya harus mengolah dan menganalisa data yang sudah lama mengendap di storage komputer saya dan melakukan riset literatur secara intensif sekali. Hasilnya, saya berhasil menyelesaikan materi presentasi dengan memuaskan (dalam takaran saya). Namun yang saya catat disini bukan hasil itu, tapi apa yang saya rasa dan sadari selama proses pengerjaannya: betapa ada banyak hal yang tidak saya mengerti, betapa seharusnya saya bisa memanfaatkan waktu sedari dulu untuk belajar seintensif ini, belajar mati-matian seolah-olah nasib dan kredibilitas saya yang dipertaruhkan esok hari di hadapan para ahli.

Itu hanya satu materi untuk satu topik saja. Bayangkan ada berapa banyak hal yang saya tidak sadar bahwa saya tidak tahu hanya karena saya lebih memilih untuk bersosial media, stalking akun tidak penting di instagram, atau menghabiskan waktu leyeh-leyeh tak berguna menonton drama Korea. Lebih dari itu, betapa saya sadar sesat dan dzalimnya saya ketika masuk ke kelas untuk mengajar, saya lalai tidak berusaha untuk menambah kapasitas teko agar semakin banyak yang bisa saya curahkan ke mahasiswa saya, kepada para calon penerus bangsa ini, pada manusia-manusia yang harus saya bentuk mindset dan kepribadiannya. Betapa saya lalai sekali.

If I could do it that time, I should be able to do it in any other time, every time.

Saya harus belajar.

 

Lombok Trip 2017

Awal Juli ini kami, rather impulsively, memutuskan untuk berlibur ke Lombok (photos are here). Tahun 2014 dulu kami sudah pernah kesini, maka sedikit banyak tulisan ini akan menjadikan perjalanan terdahulu sebagai referensi. Itenerary kali ini kurang lebih sebagai berikut:

Day 1.

Kami tidak berangkat dari Malang atau Surabaya, tapi dari Halim Perdana Kusuma Airport, Jakarta, karena sebelumnya ada business meeting disana. Kami ambil penerbangan yang pagi, jam 6.15 WIB menggunakan Citilink dan mendarat pukul 9ish WITA (penerbangan 2 jam, ada perbedaan waktu 1 jam antara WIB dan WITA). Kami sengaja tidak membawa banyak barang, cuma 2 ransel standar dan 1 koper yang muat di kabin. Hal ini penting agar tidak usah menunggu bagasi.

At LIA

Sesampainya di Lombok International Airport (daerah Praya, Lombok Tengah), kami memutuskan untuk naik Damri saja — for its sense of adventure — (pengalaman di Jakarta dan Surabaya, moda transportasi ini selain terjangkau, nyaman, juga reliable.) Dari Bandara, busnya berhenti kurang lebih lima menit di dua tempat: check point 1 dekat bandara dan menurunkan penumpang di terminal/stasiun di Mataram, kemudian lanjut sampai Senggigi (Lombok Barat).

Enaknya menggunakan Damri instead of taxi or tour travel car: 1. lebih murah (kalau berdua, kalau rombongan mungkin bisa dipertimbangkan menyewa mobil), 2. bisa melihat sekeliling sepanjang perjalanan karena posisi kendaraan lebih tinggi dan jendela lebih lebar.

Damri, ftw!

Sesampainya di Senggigi, kami menuju Svarga Resort (booking sebelumnya melalui Agoda — sedikit lebih murah dari Traveloka) menggunakan taksi kurleb 5 menit saja. Total waktu dari LIA – Mataram – Svarda Resort: 1 jam 20 menitan.

Biaya:

Citilink HLP-LIA (via Traveloka): 450k/person –> 900k for 2
Damri LIA – Senggigi: 35k –> 70k for 2
Taksi Senggigi – Svarga Resort: 12.5k
Svarga Resort (via Agoda, tipe kamar Varda King Size Bed Ocean View): 1.100k/night
Total for Day 1: IDR. 2.082.500
catatan: untuk makan di hari pertama kami bawa bento KFC dari Jakarta sih, jadi biaya di atas belum termasuk makan.

Day 2.

Kami memang sengaja untuk tidak kemana-mana pada waktu day 1, tapi beristirahat di hotel, menikmati pemandangan, dan berenang. Waktu Day 2, sarapan di hotel dengan pilihan menu: Indonesian breakfast (juara!), latina, middle eastern, continental dan oriental.

Untuk foto-fotonya, banyak lah ya di Google. The resto overlooks  the infinity pool, airnya segar tidak bau kaporit sama sekali. Make sure you bring along your swimming gear.

Saran saya sih make most of your first day to recharge your energy here in this hotel before embarking on Lombok exploration the next day.

Checking out jam 12 WITA, menuju ke  Mina Tanjung Hotel, which turned to be quite far from Senggigi. Perjalanan kesana memakan waktu kurleb 1 jam, melalui pinggir pantai, bisa berhenti untuk foto-foto di beberapa spot dulu kok.

Berhenti sejenak untuk berfoto di spot bagus

Pakai taksi karena tidak ada moda transportasi lain yang kami temui. Jangan lupa untuk membeli logistik di sekitar Svarga sebelum kesana karena Mina Tanjung Hotel ini letaknya jauh dari minimarket.

Review hotel: kami memesan kamar Bungalow Sea View. Langsung menghadap laut.

Tamannya indah, kolamnya bagus meskipun bau kaporit langsung menyengat hidung dari jarak 5 meter. Pemandangan sunset sangat menawan.

sunset

Akan tetapi, untuk selanjutnya kami tidak akan menginap di hotel ini lagi dengan alasan: untuk kelas dan harga segini, kamar tidak dilengkapi dengan kettle air panas seperti di hotel-hotel lain (padahal saya sudah bawa POp Mie dan pasti ingin bikin teh hangat atau kopi sambil duduk-duduk di teras menikmati sunset, kan?), channel TV cuma 3 atau 4 lokal — not that we wanted to go there to watch tv, but still. Privasi agak kurang sip karena kelambu di pintu tidak bisa ditutup, koneksi internet dari kamar sangat lemot, pantai kotor — masak iya ketika menceburkan kaki di bibir pantai kami disambut oleh pampers kotor?! Kan nganu… Ditambah lagi the restaurant blared the music unnecessarily loud sampai terdengar dari kamar dan di samping kamar kami langsung ke jalanan kampung yang anak-anaknya bermain dengan gaduh. All in all, it is just not worth it lah. Akhirnya, kami check out esok harinya sehabis sarapan di pagi hari.

Biaya:

Taksi Svarga – Mina Tanjung: 120k
Makan siang/sore di resto hotel: 75k (menu: ikan kakap kecil 1, plecing kangkung, 2 nasi – no minum)
Hotel (via Agoda — Bungalow Sea View) : 700k/night
Total biaya Day 2: IDR. 895.000

Day 3.

Sengaja waktu hari ketiga kami menyewa travel tour demi kepraktisan dari hotel ke beberapa tempat wisata lainnya. Rencana awal kami ingin ke Desa Sade (desa sentra tenun) dan pantai-pantai sekitar Kuta (Selong Belanak, Mawun, dan Pink). Hanya saja rencana berubah seketika demi mendengar info dari pak supir yang mengatakan ada 3 gili yang lumayan masih sepi, baru aja dibuka: gili Nanggu, Kedis, dan Sudak. Perjalanan dari Mina Tanjung ke Lembar kurleb 2 jam. Dari sana kami menyewa speedboat (bisa lebih murah jika rame-rame — boat muat sampai 10 orang), life vest, snorkel gear, dan fin. Oiya, jangan lupa menawar ya.

Perjalanan dengan speedboat menuju gili Nanggu kurleb 15 menit. Hawanya, meskipun laut, sangat sejuk dengan kelembaban yang pas untuk kami orang gunung. Air lautnya tidak bau anyir, warnanya emerald green. Sesampai di Nanggu, kami disambut dengan pemandangan yang wow banget. Pantainya bersih, pasirnya putih, bersih dan lembut. Landai dengan air jernih dan ikan-ikan yang masih terlihat di bibir pantai. Belum begitu banyak turis disana, that’s a plus. Agak ke tengah sedikit, ada berbagai macam jenis ikan yang bisa dilihat. Pokoknya gak rugi deh.

Selepas dari Nanggu, kami ke Gili Kedis. Perjalanan kurleb 5 menit by speedboat. Pulau kecil ini kualitas pemandangan air lautnya sama dengan Nanggu. Hanya saja ukuran pulaunya kecil sekali, mungkin seukuran 100 meter persegi saja. Hanya ada 1 bangunan — warung kecil — dan beberapa kursi serta ayunan disana, which is nice. A perfect spot to take photos and just chill out. Pulau selanjutnya adalah Gili Sudak, tempat makan pinggir pantai. Hanya ada 2 resto disana. Resto 1 lebih murah, tapi menjual beer (jadi kami hindari karena meragukan kehalalannya), dan resto 2 lebih mahal (harga yang dipatok harga turis mungkin — ikan kecil 75k per ekor) jadi kami balik kanan grak.

Ngomong-ngomong masalah harga, wajar kalau pemandu travel Anda akan membawa Anda ke tempat-tempat yang mahal — mereka mendapatkan potongan dari pemilik toko untuk tiap pembelanjaan. Nah, kalau Anda on budget, tidak ada salahnya googling sendiri tempat yang murah dan meminta sopir mengantar kesana. You have a right for that karena sudah menyewa jasanya selama 12 jam. Tidak wajib nurut mereka kok. Kami kemarin ini, ketika lapar dan ingin makan, dari Lembar dibawa ke Mataram demi menuju rumah makan yg berkongsi dengan si sopir. Mana harganya mahal, rasanya biasa dan porsi sedikit pula. Don’t repeat our mistake. Google is your best friend. 

Untuk oleh-oleh pun demikian, kami diajak ke sentra oleh-oleh yg mahal. Sebagai gambaran: daster yang bisa saya beli seharga 75k di Jawa, dijual seharga 300k++, dan itu bukan daster khas Lombok. Snack rumput laut yang di Tokopedia seharga 89k, dijual seharga 130k++. Kecuali Anda berniat memajukan ekonomi lokal at the expense of your wallet’s well-being, feel free to ignore anjuran sopir travel Anda. BUT some sites do say pasar Cakranegara di Mataram menyediakan suvenir harga grosir. You need to bargain for the price first, though. If you could do that, that’s worth it.

Biaya day 3

Travel 12 jam: 500k
Speedboat (plus snorkeling gear): 550k
tiket ke Gili Nanggu: 5k/pax –>10k for 2
tiket ke Gili Kedis: 5k/pax –> 10k for 2
Makan siang for 2 (menu: nasi putih, plecing kangkung, dan ayam taliwang, teh hangat): 200k
total: IDR. 1.270.000
Kami tidak memasukkan oleh-oleh disini yah.

Day 4

Sepulang dari berkeliling ke Lembar dan Mataram, kami menuju ke hotel D’Praya dekat bandara yang menyediakan free shuttle service to and fro LIA. Di Praya, hanya ada 3 hotel yang memang menyasar pasar orang yang transit, D’Praya, Grand Praya, dan D’Max. Saya sudah pernah ke Grand Praya sebelumnya dan kali ini di D’Praya. Grand Praya lebih dekat ke bandara dan lingkungannya sedikit lebih ramai (D’praya dikelilingi sawah), dekat minimarket. Kualitas kamar dan kolam renangnya tidak seenak D’Praya tapi makanannya jauh lebih enak. Sorry to say, don’t expect much from D’Praya’s food service –> tapi kalau tujuannya transit aja mah gak masalah ya. Atau bawa aja Pop Mie sendiri seperti kami, hehe.

Kami check-in di D’praya waktu maghrib. Karena penerbangan masih esok malamnya, kami istirahat di hotel dulu dan pesan late checkout jam 7 malam. Nambah 200k saja. Lumayan daripada terlunta-lunta di Praya yang beneran ga ada apa-apanya. Hanya sawah dan sawah.

Biaya Day 4

Hotel D’Praya (oiya, mintalah kamar yang jauh dari pompa ya, biar tenang.): 526K+200k –>726k
POpmie, snack (we bought waaaay lots of them): 70k

Total day 4: IDR. 796.000

Note for future travel plan

  • Next time kalau saya ada kesempatan ke Lombok lagi (karena saya tidak kapok), saya akan menghapus itenerary detail ke Mina Tanjung (lumayan bisa hemat 800k-an).
  • Day 1 akan langsung menuju Svarga untuk istirahat, Day 2 akan langsung ke hotel daerah Kuta atau Praya untuk menaruh barang-barang (karena tidak untuk ditempati, cari kamar yang relatif murah saja, asal ada ‘jujugan’) dan lanjut eksplor 3 gili (Nanggu, Kedis dan Sedak), pantai Selong Belanak, Mawun, dan Pink.
  • Tidak perlu ke Mataram dan tidak usah capek-capek cari oleh-oleh yang, sorry to say, not worth it lah — ga ada yang ga bisa didapat di Jawa.
  • Mungkin mempertimbangkan untuk menyewa motor juga di daerah Lombok Timur (kemarin dapat info 80k/12 jam untuk motor Vario 125 — more than enough), tidak perlu menyewa travel tour, instead dari hotel di daerah Praya naik taksi saja ke penyeberangan 3 Gili di Lembar. Lumayan bisa hemat 400K.
  • Kalau ada barengan, sewa speedboatnya patungan saja. Kalau 10 orang penumpang, artinya masing-masing bayar 50k saja. Rajin-rajinlah ngobrol dg sesama turis yang Anda temui, di hotel atau di lokasi.